Senin, 25 Mei 2009

NASIONALISME IMAJINER*

Nasionalisme mungkin kata yang tak asing lagi bagi para pemuda Indonesia saat ini. Ketidakasingan itu dapat terlihat pada peranan pendidikan sejarah dan pendidikan kewarganegaraan yang diberikan pada para pemuda Indonesia ketika mereka masih berstatus sebagai pelajar di bangku sekolah. Mereka mendapatkan doktrin dan muatan materi, konsep, ataupun teori nasionalisme itu dari tokoh-tokoh seperti Otto Bauer, Ernest Renan, Hans Kohn, dan Lothrop Stoddard dan sebagainya. Namun demikian apa yang sudah didapatkan para pemuda itu ternyata tidak diimbangi dengan pemahaman nasionalisme pada era globalisasi yang suasananya berbeda pada realitas historis jaman dahulu dulu. Mengapa bisa demikian?

Situasi dan kondisi itu bisa dipahami sejauh kita menyadari bahwa model dan materi pembelajaran sejarah maupun PKn kurang melesat memenuhi tuntutan jaman. Jaman berubah namun materi yang diajarkan seakan jalan ditempat. Guru yang mengajar pun rata-rata cukup puas dengan bekal dan bahan mengajar yang seperti itu. Terkadang mereka puas dengan apa yang sudah diberikan dan dipahami selama kuliah di lembaga pencetak guru. Terkadang mereka menganggap bahwa materi itu masih cespleng untuk mengajari anak didiknya dengan sebaik-baiknya.

Pada dasarnya mapel sejarah berisi data-data historis tentang apa yang telah diperbuat pemuda bangsa ini pada awal abad ke-20. Materi pergerakan nasional yang digawangi oleh pemuda seperti Dr. Soetomo. Dr. Wahidin Soedirohusodo, Soewardi Suryaningrat, Douwes Dekker, Tirto Adisoerjo, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan sebagainya memulai mengenalkan konsep organisasi dan kebangsaan meskipun dalam tataran dan ruang lingkup yang sangat sempit. Konsep kebangsaan itu makin lama makin massiv ketika perilaku politik kolonial Belanda tidak memberikan ruang bagi para pemuda itu untuk berekspresi sesuai dengan tuntutan kebebasan pada situasi yang tidak seimbang saat itu.

Namun demikian, sikap kebangsaan para pemuda itu tidak muncul begitu saja, mereka memiliki rasa kebangsaan itu karena praktik penjajahan yang sangat lama yang telah melahirkan kesengsaraan, ketidakadilan, kebodohan, dan kemelaratan sebagai bangsa yang terjajah. Adanya perlakuan seperti itu menyebabkan muncul perasaan senasib sepenanggungan dan kehendak bersatu dari segenap komponen bangsa yang berbeda etnis dan bahasanya itu.

Bentuk-bentuk perlawanan dari bangsa Indonesia belum mampu menjawab dan menuntaskan penderitaan yang teramat kejam. Perlawanan Diponegoro, Imam Bonjol, Pangeran Antasari, Teuku Cik Di Tiro, Pattimuran, Hassanudin, dan sebagainya hanya mengoyahkan sedikit kekuasaan Belanda di wilayah-wilayah tertentu. Perlawanan itu umumnya mengalami kegagalan yang disebabkan belum adanya kesepakatan untuk apa mereka melakukan perlawanan fisik dalam perspektif nasional. Perlawanan daerah itu akhirnya pun punah karena belum adanya kesatuan sikap antara pejuang dalam lingkup nasional.

Politik etis van Deventer membuka celah bagi para pemuda untuk mengerti apa sebenarnya yang terjadi pada negeri ini. Para pemuda yang berasal dari ningrat memiliki akses yang terbatas sebetulnya untuk memasuki area pendidikan Kolonial. Namun dengan serba keterbatasan ningrat yang berpikiran maju menyuruh anak-anak mereka untuk memasuki jenjang demi jenjang pendidikan Kolonial setinggi mungkin. Mereka berpikir bahwa dengan pendidikan yang dimilikinya akan menambah bekal dan kemampuan anak mereka mendapatkan posisi di birokrasi kepamongprajaan pemerintah Kolonial Belanda.

Ketika anak-anak ningrat menyelesaikan studinya, banyak dari mereka yang justru tidak memasuki wilayah birokrasi sebagai wujud penerapan keilmuan mereka. Mereka justru tertarik untuk berjuang menuntut perubahan yang terpenting bagi masa depan Indonesia. Nasinalisme mereka terbentuk untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia yang sempat terhina selama berabad-abad. 
Tuntutan nasionalisme begitu riil dan konkrit disuarakan oleh generasi 1920-an. Perjuangan lewat forum organisasi dan partai begitu nyata kehadiran dan tuntutannya karena ada musuh yang begitu nampak bentuknya untuk disingkirkan keberadaannya dari negeri ini. Musuh itu adalah Belanda lalu Jepang yang datang tahun 1942.

Bagaimana dengan situasi sekarang? Bagaimana dengan konsep nasionalisme versi buku mapel sejarah dan PKn itu, apakah materinya sudah bisa memberikan pemahaman pada anak didik pada situasi yang berbeda? Pada materi pelajaran sejarah, jelas sekali dibutuhkan upaya memahamkan apa yang sudah menjadi jalinan sejarah itu untuk ditarik garis kesimpulannya dan mencoba membandingkan semangat kepemudaan menanggapi perubahan jaman yang sangat cepat ini.  Realitas sejarah dengan kenyataan yang muncul pada masa kini jelas berbeda. Anak muda jaman dahulu memang memiliki kepekaan sosial begitu besar karena tuntutan kondisi yang ada dan musuh politik yang jelas nampak ada. Pada masa sekarang, kita semakin merasa kabur terhadap fenomena kepemudaan yang dilakukan. Pemuda sekarang identik dengan ketidaktahuan akan persoalan yang melanda bangsa. Pandangan seperti ini agaknya diperkuat oleh pembenaran yang dikatakan bapak dan ibu guru yang mengajar di sekolah. Perbedaan sudut pandang yang dilegitimasi oleh buku-buku pelajaran baik mapel sejarah maupun PKn menjadi sesuatu yang dipegang teguh oleh guru ketika memberikan transfer pengetahuan pada anak didiknya. Meskipun tidak semua guru begitu, namun secara umum guru pengajar sejarah dan PKn memiliki pandangan yang sama ketika mengajarkan konsep-konsep keilmuan itu pada anak didiknya yang dianggap tidak mengerti apa-apa. Guru menganggap bahwa konsep nasionalisme yang ditawarkan melalui buku-buku paket itu statusnya sudah final dan sudah tidak bisa dibantah lagi. Artinya guru menganggap bahwa melalui bukti dan fakta sejarah yang terkait dengan konsep nasionalisme itu sudah teruji situasi dan waktu. Hal inilah yang selalu didengung-dengungkan pada anak didik, meskipun anak didik sendiri yang kritis sudah merasa jenuh dan bosan.

Namun demikian, ada secercah harapan ketika kita membuka buku pelajaran PKn kelas X di mana pada halaman awal anak didik sudah dibekali beberapa konsep nasionalisme. Dalam pembahasan selanjutnya buku itu kita dihadapkan pada persoalan konkrit yang begitu besar seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menjadi isyu besar untuk dipecahkan berdasarkan konsep nasionalisme tersebut. Bagi guru yang kolot dan konservatif mungkin persoalan nasionalisme tidak terkait dengan KKN bangsa ini yang akut. Nasionalisme memang berbicara tentang kebangsaan. Nasionalisme terlahir karena penderitaan kebangsaan dan untuk itu ada kesepakatan antar elemen-elemen yang terpinggirkan itu untuk menyatu dan berkehendak. Oleh karena itu sangat cocok sebetulnya jika persoalan bangsa yang begitu bobrok ini turut diperbincangkan melalui sudut pandang kecintaan kita terhadap negeri yang bernama Indonesia ini. Jika KKN itu jelas meniadakan dan menghancurkan tatanan normatif yang menjadi sokoguru dan penyokong NKRI maka sudah pasti sebagai generasi muda kita turut berkecimpung dan bergerak untuk menghilangkan unsur-unsur KKN itu dengan cara-cara elegan dan bersahaja juga.

Persoalan nasionalisme juga harus diperlebar wilayah pemahamannya. Nasionalisme bukan barang mati untuk ditafsirkan secara tunggal semata. Guru sejarah harusnya berada di garda depan untuk turut memberikan pemahaman itu pada generasi yang sedang tumbuh ini. Nasionalisme tidak kaku hanya berlaku ketika bangsa kita terjajah dan dieksploitasi oleh pihak asing pada masa lalu, namun nasionalisme sangat pantas untuk mempersoalkan pula situasi ekonomi yang tidak adil pada situasi terkini. Bagaimana guru membahas persoalan ekonomi bangsa dan ikon-ikon penting yang menjadi simbol-simbol nasionalisme baru ini yang perlu disosialisasikan dan dimunculkan pada setiap pembelajaran di kelas. Agaknya guru sejarah dan PKn perlu membaca ulang konsep nasionalisme imajinernya Bennedict Anderson agar mampu memberkan rambu-rambu yang sesuai dengan realitas Indonesia yang sudah berubah.
*Penulis: Muslichin, Guru SMA 2 Kendal. 

Rabu, 20 Mei 2009

KEBANGKITAN NASIONAL: SIMBOLISME SEMATA?*

Hari ini seratus satu tahun kebangkitan nasional, banyak sudah segala sesuatu yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun segenap rakyat Indonesia untuk mewujudkan makna dari sebuah kebangkitan bangsa. Sejak awal kebangkitan nasional disuarakan oleh Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo tahun 1908 bangsa ini sudah mulai bersepakat tentang penting sebuah kesadaran memiliki meskipun waktu itu Boedi Oetomo sejatinya adalah organisasi yang lingkup kegiatannya bergerak di bidang sosial budaya.

Boedi Oetomo mengawali bangsa Indonesia ini dengan semangat pemuda akan pentingnya sebuah organisasi. Ia lahir karena kebuntuan antara kebijakan pemerintah Kolonial dengan kehendak rakyat tanah jajahan yang tak pernah mendapatkan ruang apresiasi yang adil dan bijak. Pemerintah Kolonial tentu saja menjadikan situasi negeri yang saat itu belum berani mengangkat identitas keindonesiaan membatasi pengakuan hak-hak politik dan kebebasan berbicara atas nama apa saja.

Lalu, dalam rentang waktu yang relatif singkat bermuncullah organisasi massa yang berbasis kerakyatan, nasionalisme, ataupun keagamaan yang berlomba-lomba menghiasi wajah sejarah Indonesia. Berdirilah Syarekat Dagang Islam, Indische Partij, Perhimpunan Indonesia, PKI, PNI, Parindra, Gerindo, dan lain sebagainya yang menambah dinamika inetelektualitas dan wajah pergerakan nasional. Dengan tampilan organisasi-organisasi itu, mereka lantang dan berani mengotak-ngatik kesombongan Kolonial di Indonesia itu. Semakin lama organisasi-organisasi itu meniupkan angin kebebasan, demokrasi, dan sayup-sayup mulai terdengar semangat kemerdekaan yang bertambah keras dan masif.

Situasi kolonial memberikan peluang bagi anak bangsa untuk bersatu dan bangkit melawan ketidakadilan, kesengsaraan, dan kemiskinan yang ditancapkan pemerintah Kolonial Belanda. Rakyat yang menderita terlalu lama akhirnya memiliki kesadaran untuk memulai dan mengorganisasi diri dalam satu wadah yang efektif melawan kekuasaan Kolonial. Mereka menentang segala bentuk ketidakadilan yang tersistematisasi dalam struktur yang tidak imbang. Meskipun lama, akhirnya perjuangan yang diawali oleh Boedi Oetomo dapat membuahkan hasil yang berupa ikrar Sumpah Pemuda dan puncaknya adalah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Ketika bangsa kita sudah mencapai apa yang selama ini menjadi isyu pergerakan nasional masa itu, maka yang terjadi adalah bangsa ini mengalami sebuah kebingungan untuk menata kembali isu-isu yang mampu memberi dorongan untuk melakukan kebangkitan kembali. Saat ini tak ada sebuah persoalan yang mampu membangkitkan kembali semangat kebangsaan Indonesia yang justru mengalami antiklimaks pascaproklamasi kemerdekaan. Mengapa bisa terjadi seperti itu?

Setiap tahun kita pasti melaksanakan ritual kebangkitan kebangsaan dengan memasang atribut kebangsaan yang sekiranya sesuai dengan tema-tema pembangunan. Upacara diselenggarakan baik di instansi pemerintahan maupun sekolah-sekolah. Pembina upacara pun tidak ketinggalan memberikan pidato pengarahan tentang makna kebangkitan kebangsaan. Guru sejarah atau PKn juga dipaksa untuk menyempatkan materi pergerakan nasional di sela-sela pelajaran yang jauh dari pembahasan itu.

Secara normatif dan formal, kita sebagai generasi penerus bangsa ini sudah dianggap memiliki kesadaran bersejarah, berbangsa, dan bernegara yang cukup tinggi. Di mana-mana ornamen kebangkitan bangsa dapat terlihat pada spanduk-spanduk yang dipasang di instansi pemerintah, sekolah, dan sarana publik. Di setiap televisi kita melihat iklan layanan pemerintah yang berkaitan dengan hari kebangkitan ini. Namun ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam sanubari kita: apakah yang dilakukan oleh anak bangsa itu tidak sekedar simbolisme semata atau ritualitas semu yang kosong makna?

Mengapa? ada banyak penjelasan yang mungkin bisa kita ungkapkan dalam hal ini. Jelasnya bahwa kekosongan makna terlihat pada apatisme anak muda bangsa ini dalam menelaah isyu-isyu nasional. Kesadaran mereka belum cukup matang untuk menanggapi persoalan-persoalan yang menghinggapi keadaan negeri ini. Setiap peristiwa besar yang menyangkut nasib dan masa depan bangsa ini terlewatkan begitu saja tanpa rasa kepedulian yang kental.

Di sisi lain sikap apresiasi mereka terhadap upaya apa yang bisa dilakukan untuk mengisi masa pembangunan yang indah ini adalah nol besar. Mereka banyak menghamburkan waktu untuk hal-hal yang sifatnya rekreatif. Kapan mereka bisa bangkit kalau keseharian mereka habis untuk memperbincangkan persoalan remeh-temeh percintaan, pacaran, dan gosip artis?

Singkatnya, kebangkitan nasional adalah keniscayaan sebuah bangsa untuk menolak dan mengalahkan situasi dan kondisi bangsa yang melemahkan dan merugikan perjalanan mencapai apa yang dicita-citakan. Untuk itu, bangsa ini harus tetap bangkit agar apa yang sudah digariskan dalam semboyan kebangsaan kita tetap terjaga dengan baik. Jika kita hanya terpaku dan puas dengan ritualitas upacara dan spanduk yang hanya berisi narasi besar saja, maka kita sebetulnya belum bangkit akan kesadaran yang semestinya. Agaknya, kita masih jauh dari cita-cita itu.
Penulis: Muslichin,  guru SMA 2 Kendal.

Minggu, 12 April 2009

KETERPESONAAN PADA RAUT TRADISI

Melihat Bali dari dekat, seakan ada di hadapan kita bayang-bayang masa lalu keindonesiaan yang tetap lestari dan terjaga dengan formulasi ritus melalui gerak, pekik, dan bahasa yang apik. Bali menawarkan pesona kelaluan yang mengindah secara alami, sesuai dengan panorama alamnya yang mendukung: sawah, subak, bukit-bukit, terasiring, pura, danau, dan tentu saja pantai-pantai keramatnya.

Orang-orang yang lalu lalang dengan antribut ritual mereka begitu eman kalau ditinggalkan oleh mata yang mengerti.  Orang-orang yang berhias, pura yang terbungkus janur kuning, patung yang diselimuti warna hitam dan putih, hiasan bunga-bunga melati yang terselip diantara telinga gadis-gadis Bali yang cantik, kerancakan gamelan Bali yang riang dan lincah, tarian Barong, Kecak dan Pendet yang magis, serta sesaji berupa warna yang ditaruh di setiap perempatan atau pohon-pohon rindang.

Tawaran keindahan tidak berhenti begitu saja. Tawa dan ramah mereka yang terlukis lewat ekspresi dan tatapan mata menyuguhkan bahwaa Bali adalah bangunan seni masa lalu yang tetap ada untuk disyukuri pada masa kini. Bali bukan semata museum budaya dan tradisi kelampauan kita saja, namun ia adalah masterpiece dari seniman dan Brahmana yang mewujud melalui ragam tradisi dan budayanya yang tetap terjaga dengan baik.

Keindahan adalah ibadah. Dari kekaguman itu muncul rasa syukur bahwa Bali mengada untuk kita. Keindahan itu menjadikan kita sadar bahwa keberagaman dan kultur harus memunculkan apresiasi yang memuncak lewat puji dan keimanan yang semakin mendalam, jauh melalui lubuk, dan bersama menyublim untuk menjalin ikatan berdasarkan keperbedaan yang dipercontohkan pada Bali. 

Bali sebagai realitas kultural yang harus dikunjungi oleh sebagian besar wisatawan dari Jawa memberikan kemungkinan untuk itu. Ia hadir sebagai pengingat pada generasi Indonesia yang sedang tumbuh, bahwa Indonesia ada karena tradisi dan nilai-nilai kultur masa lalu yang tetap harus menyala, tumbuh, dan terjaga baik. Tanpa itu, mungkin kita bukan lagi pantasi untuk mengaku sebagai orang Indonesia. (3 Foto diambil dari beberapa sumber di internet).

LINTASAN KESILAMAN DALAM POTRET*

Masa lalu kadang memancarkan nuansa peneduh bagi manusia kini yang menghadapi masalah yang mengakarabinya. Manusia menoleh dan menengok ke masa lalu untuk memperoleh jawaban atas problematika hidup yang ia alami. Oleh karena itu, betapa beruntungnya manusia ketika ia memiliki lintasan masa lalu yang panjang dan mendalam pada negeri dan tanah tempat ia hidup hidup dan tersenyum selama ini. Sebaliknya betapa sedih dan muramnya manusia ketika masa lalu tak pernah hadir secara lengkap dan utuh sebagai akar manusia hidup pada masa kini.

Demikian pula wajah negeri kita: Indonesia. Indonesia ada karena memiliki akar lintasan kesilaman yang panjang. Negeri Indonesia lahir karena perjumpaan antara lokalitas yang lentur dengan isme-isme dari luar yang berwajah santun, lunak, kejam, atau keras. Semua datang menghampiri dan menyapa dalam wujud perdagangan, kulak, dan barter hingga salah satu dari mereka berkeinginan untuk menaklukkan nusantara karena silau dengan rempah-rempah. 

Maka, kita mengakrabi VOC, EIC, dan orang-orang Portugis maupun Spanyol dengan bendera dagang mereka. Bertubi-tubi mereka hadir dalam senyum ramah untuk mendapatkan monopoli atas rempah-rempah dan produk nonmigas yang kita kaya untuk itu. Hongi, devide et impera, cultuure procenten menjadi alat penindas yang lunak menutupi niatan kejam mereka. Negeri kita terpuruk tanpa pemersatu layaknya jaman emas Sriwijaya dan Majapahit.

Negeri ini yang pernah jaya mengarungi samudera lewat sahabat bugis akhirnya terperosok dalam ketidakberdayaan akibat tidak memahami apa sejatinya nusantara itu. Saat itu kerajaan tradisional masih berwatak feodal agraris. Tak satu pun kerajaan yang mampu memperkuat sektor maritim sebagai satu kekuatan utama untuk pertahanan bangsa. Apa yang dikatakan Pramudya Ananta Toer sangat benar, bahwa bangsa ini telah terjadi arus balik. Kita yang pernah jaya di lautan akhirnya kandas dan menerima Barat dengan budayanya menggantikan posisi priyayi-priyayi kita yang ternina-bobokan lewat gaji-gaji kolonial mereka. 

Belandalah yang dengan sabar meladeni negeri ini dengan keramahtamahan yang mendua dan kebijakan-kebijakan ekonomi yang menyuburkan kemiskinan masyarakat Indonesia. Wertheim, D.H. Burger, maupun Boeke mengatakan hal itu. Dan kita tidak bisa berkata apapun. Bagi rakyat negeri ini, tak apalah mereka dijajah Belanda, wong sebelumnya para priyayi mereka menjajah lebih dari apa yang telah dilakukan orang Belanda. Kita melalui masa-masa di mana Belanda menerapkan rodi, diganti sebentar dengan sewa tanah, dilanjutkan lagi dengan tanam paksa, ekonomi liberal, dan politik etis.  

Lewat edukasi sebagai pilar politik etis, kita disadarkan untuk menghormati dan merefleksikan kembali apa sebenarnya kolonialisme dan imperialisme yang saat itu Belanda mulai kehilangan pamor-pamor kekuatan politik dan ekonominya karena persoalan perang dunia I dan II yang membahayakan situasi negerinya di Eropa. Kita bangkit untuk mengorganisasi kekuatan rakyat melalui partai-partai politik. Budi Oetomo memang lahir mengawali keberanian berorganisasi, tapi ia bukanlah organ terbuka yang benar-benar membawa semangat perjuangan. Untunglah, Indische Partij bangkit untuk menyadarkan pemuda saat itu tentang pentingnya negeri ini serta peluang yang memungkinkan bagi keterlibatan rakyat Indonesia untuk membentuk dan mencintai negeri sendiri tanpa tangan-tangan kejam bangsa lain. Puncaknya adalah sumpah pemuda yang dengan kekuatan politik seadanya berani melawan arus kuat yang terjadi saat itu.

Yah, negeri ini tercipta lewat keberanian pemuda-pemuda yang secara sengaja mengenyam pendidikan barat. Mereka terlahir sebagai intelektual yang sadar akan nasib bangsa. Mereka dididik lewat sistem pengajaran Belanda dan akhirnya menjelma menjadi kekuatan penting untuk melawan Belanda sendiri. 

Tujuh belas tahun lewat dari peristiwa besar itu, negeri ini memiliki keberanian untuk memerdekakan dirinya. Jepang yang sempat mampir tidak mempunyai kekuatan untuk menciptakan status quo. Sekutu dan Nica datang terlambat. Soekarno dan Hatta yang didukung pemuda Indonesia berhasil mengumumkan tentang harkat dan martabat bangsa Indonesia pada dunia luar. Meski berjalan alot, akhirnya dunia luar mengakui lewat konferensi demi konferensi yang meletihkan dan menghabiskan berdarah-darah pemuda yang kurang terdidik untuk maju di depan mocong senapan Nica dan sekutu. 

Sejarah mewartakan pada kita bagaimana laju republik yang bernama Indonesia terhuyung-huyung untuk mencapai cita-cita seperti yang digariskan dalam preambule UUD 1945. Masa liberalisme yang tidak jelas, masa demokrasi terpimpin yang akrab dengan konsep Nasakomnya, masa Orde Baru yang awalnya membawa semangat pembangunan dan pernah menumbuhkan perekonomian hingga 8%, serta akhirnya masa sekarang: reformasi.

Lewat sejarah, kita bercermin bagaimana dunia politik mewarnai carut-marut kehidupan berbangsa dan bernegara. Masa reformasi bukanalah suatu masa yang terpisah dengan realitas sebelumnya. Hendaknya, generasi masa ini melihat dengan jujur pada air kesilaman yang mengalir yang membentuk spektrum yang luas tentang apa yang ada dan mengada pada kini dan esok. 

Lalu, apapun yang sudah menjadi lintasan historis negeri ini, buatlah itu sebagai wadah reflektif kebanggaan dan jati diri Indonesia. Dengan itu, mungkin kita lebih bisa membuka diri dan merekah binar senyum kita melihat betapa berkecamuknya beban yang menghimpit negeri ini.  

*Penulis: Muslichin, Guru SMA 2 Kendal.

Selasa, 07 April 2009

MENGEJA JAMAN: PEMILU BAGI GURU*

Dua hari lagi, pesta perhelatan akbar di mulai. Masyarakat yang sudah memenuhi kriteria dari sisi usia akan bersama-sama menyumbangkan suaranya demi suatu perubahan. Pemilu legislatif menjadi ajang dan katup pengharapan bagi masyarakat untuk memberikan apa yang terbaik bagi negeri ini. Meskipun hanya satu suara dari setiap individu, itu sudah cukup untuk memberikan andil yang optimal bagi jalannya negeri ini lima tahun mendatang.

Beberapa warna ideologi partai menawarkan pukau dan daya tarik tersendiri bagi para pemilih. Apakah mereka tertarik akan warna dan ideologi partai tertentu itu menjadi pilihan bagi setiap pemilih untuk menggunakannya baik secara sadar maupun paksaan. Kita tahu, iklan-iklan politik menggantikan program dan platform kepartaiann. Iklan mempunyai bahasa gambar dan kata yang menghipnotis orang-orang untuk merasa dan tidak lagi berpikir jernih mengenai siapa dan apa yang akan dipilihnya.

Sisi emosional dan solidaritas primordial cepat akan lambat menjadi acuan bagi partai untuk menciptakan pilihan yang terbatas bagi para pemilih. Orang-orang masih terjebak pada gejala primordialisme dan politik aliran. Barangkali, mereka menyukai ketokohan yang menjulang bertaburan cahaya bintang, namun itu tetap tidak mengubah pendirian orang-orang untuk memilih berdasarkan alasan-alasan ideologi.

Bagi orang-orang yang berlatar belakang pendidikan yang tinggi dengan titel yang panjang disandang, politik bukan hanya obralan janji yang memang tak pernah dibuktikan realitasnya. Politik adalah secuil permainan yang tak dibutuhkan prosesnya seperti apa yang penting menghasilkan sosok-sosok yang pemenang yang pantas dihormati karena dipilih oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Mereka menjadi pragmatis dan apatis karena proses pergulatan intelektual dengan realitas politik dari masa ke masa.

Lalu, bagaimana dengan sosok guru? Bagaimana guru memaknai persoalan politik melalui perkelahian partai-partai dalam pemilu dua hari mendatang? Ternyata menarik sekali apa yang menjadi pilihan guru dalam menyuarakan aspirasinya. Rata-rata guru menganggap bahwa perubahan itu perlu dilakukan. Mereka tidak juga betah dengan kemapanan yang sunyi dan bahkan pengap dengan slogan dan bahasa meta narasi yang tidak berkaitan dengan dunia yang akrab dengan hari-hari mereka. Mereka berharap bahwa dengan pemilu 2009 akan banyak perubahan yang menyangkut posisi kedirian mereka. Mereka ingin parpol membawa dan mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan payung hukum bagi undang-undang sertifikasi guru dan dosen. 

Namun ada juga guru yang berpandangan berbeda. Mereka ini ingin agar pemilu menjadi ajang pertempuran ideologi yang pada akhirnya dimenangkan oleh ideologi kelompoknya. Guru yang tertarik ideologi keislaman ingin agar produk hukum ketatanegaraan diselimuti oleh nafas keislaman. Mereka menganggap bahwa sudah saatnya Islam menjadi sesuatu yang formal untuk semua aturan kelembagaan dan sosial masyarakat Indonesia. Mereka cenderung menolak pluralisme. 

Di sisi lain, ada yang lebih condong beraliran nasionalisme. Mereka ingin agar republik terjaga integrasinya melalui semangat yang dimunculkan dari parpol yang pluralistik dan multikultur. Ada yang condong memilih warna ideologi kuning, ada yang merah, dan ada yang biru. Ketiganya menawarkan hal yang sama. Dan ketiganya memberikan harga mati bahwa republik harus mengada melalui semangat multikultur yang tak boleh luntur.

Terakhir, sebagian guru masih terlihat kurang bergairah untuk menatap hari esok. Mereka tetap meyakini bahwa republik akan tetap sama dengan hari-hari kemarin. Tak ada lagi daun yang berguguran, tak ada lagi hujan, dan tak ada lagi kemarau yang disebabkan oleh kekuatan besar yang bernama pemilu. Daun, hujan, dan kemarau akan muncul silih berganti karena alam yang memintanya. Pemilu tidak akan merubah apapun. Orang-orang tetap masih banyak yang menganggur, BBM senantiasa mengalami kenaikan harga, biaya sekolah tinggi,  sembako mahal, dan tunjangan guru tidak turun-turun. Mereka ini adalah kelompok yang pragmatis-realistis. Mereka inilah yang melihat lubang hitam yang menganga begitu besar yang siap menenggelamkan republik tercinta jika orang-orangnya (para guru) masih ternina-bobokan dengan hiruk-pikuk ideologi yang absurd dengan kader-kader partai yang penuh kamuflase!

Kendal, 7 April 2009

*Penulis: Muslichin, guru sejarah SMA 2 Kendal.